EFFATA
orang buta membaca akan lumpuh menulis bahkan bisu berbicara
Mengenai Saya
Sabtu, 07 Februari 2026
Malam dan Rindu
Selasa, 24 Desember 2024
NATAL
Natal dalam tradisi Gereja Katolik diartikan sebagai “Penghayatan atau Perayaan kelahiran Yesus Kristus Sang Penebus dunia.” Di malam penuh sukacita ini, kita Umat Katolik sedunia kembali mengenang dan menghayati bagaimana Allah Yang Maha Kuasa datang dan tinggal, hidup bersama kita dan kemudian Ia rela menderita dan wafat di kayu salib untuk kita manusia.
Allah itu Mahakuasa, tapi mengapa Ia dengan sukarela lahir sebagai manusia rendah seperti kita?
Allah itu Mahamulia, tapi mengapa Ia rela lahir di kandang hewan dan berbaring di palungan tempat makan dan minum hewan?
Allah itu Mahabesar tapi kenapa lahirnya amat sangat sederhana?
Itu semua karena Allah mau mengangkat harkat dan martabat kita umat manusia yang amat dicintai-Nya. Allah datang, Allah meninggalkan segala kemuliaan-Nya untuk hidup sebagai manusia, seperti kita, agar terkikis habis sekat dan kesenjangan kita dengan Allah. Allah mau mengajak kita untuk kembali dekat dan semakin dekat dengan-Nya.
Jika Allah saja demikian, bagaimana dengan kita sebagai makhluk ciptaan-Nya? Apakah kita sanggup meninggalkan keegoisan kita dan dengan suka rela berkorban demi sesama?
Apakah kita sebagai manusia hina dan penuh dosa sanggup mengampuni sesama kita?
Natal bukan tentang baju baru, natal juga bukan tentang sekadar pergi berbondong-bondong ke Gereja dan pulang tanpa apa-apa. Tapi Natal adalah penghayatan bagaimana kemahamurahan Allah dalam diri dan dalam hidup kita. Mari wartakan Natal dengan kata-kata dan sikap hidup kita.
Semoga....
Selamat menghayati dan merayakan Hari Raya Natal Tahun 2024.
Minggu, 07 Juli 2024
Layang-layang Kertas
Lambaian senja seakan berpamit melepas pergi rona jingga bertukar gelap. Semilir angin berhembus menjemput malam, melepas tiap-tiap daun kering berjatuhan dari ranting di penghujung bulan Juni tahun 2024. “Lakukan yang terbaik, dan percaya saja pada takdir!” Sebaris kalimat itu kembali muncul dalam benak, temani waktu demi waktu berlalu tanpa kepastian dari sekian banyak harapan.
Terlalu lama menunggu dalam penantian, kapan ada kepastian? Jika saja sajak awal tak ku hapus kala itu, tentu sekarang bukan waktu ku termenung dalam hilangnya kesempatan demi restu. Sontak terhenyak dari lamunan batin yang terus persalahkan keadaan, teringat pesan terdahulu, “air bisa menjalankan perahu dan bisa juga memutar balikan perahu!” Huffttt..... Apa boleh dikata, kita hidup dari drama yang telah ditata. Bukan maksud utarakan ragu di antara kesan “hanya ikan mati yang berenang mengikuti arus,” tapi mungkinkah layang-layang kertas mampu terbang menembus badai yang tak kalah dari arus? Memang bukan tidak mungkin, tapi keadaan membawa ragu kian terpupuk. Ku harap itu benar, dan perasaan ini hanyalah ilusi dari rasa rindu akan penantian yang tertumpuk menjadi kecemasan. Tuhan, ku harap bisa merasakan sedikit saja arti menjadi orang yang bertanggung jawab, menjawab harapan kian banyak mereka yang terus berharap.
Maumere, 31 Juni 2024.
Jumat, 05 Januari 2024
Angan Dan Jangan
Siang telah pergi meninggalkan gelapnya malam,
Sayup terdengar ratapan khazanah membias kian dalam.
Seolah musim belum berganti dan masih tetap hujan,
Sayang sekali, itu jauh dari khayalan.
Secarik kertas tertoreh tinta hitam,
Pena menari-nari ikuti irama hati yang kelam.
Untai kata bercorak lawan,
Bergambar asa menuntut antara angan dan jangan.
Sempatkah mimpi itu kurajut?
Sedang tak seorang pun datang menyambut.
Dapatkah cita itu kugapai?
Sementara mata memandang tapi tangan tak sampai.
Mengapa awan terbang semakin tinggi,
Sedang aku terus tertusuk duri?
Mengapa mereka cepat berlari,
Sementara aku jatuh dan enggan tuk berdiri?
Ternyata aku salah,
Mengapa dengan mudah ku pilih berlabuh,
Padahal buku yang ku baca bukan tenang laut?
Ah benar, tempat dan bakat itu tertaut.
Minggu, 24 Desember 2023
TANPA NAMA
Dalam hening dan sepinya malam,
Teringat bayang yang pernah ada dan begitu dalam,
Hati memendam rindu yang terus tertanam
Pada mereka yang dahulu selalu ada siang dan malam.
Derakan lonceng mengiris hati,
Nuansa suka menjadi kurang berarti,
Mengapa jiwa seakan mati,
Pada malam yang amat terberkati?
Raga memang bebas, tapi hati tidak.
Tidak bebas, terikat pada ruang dan waktu sunyi dalam petak.
Dalam hening jiwa yang penuh riak,
Mulut memaksa tuk berteriak.
Teriakan rasa yang seharusnya ada,
Menyurat rindu ingin bersua.
Selamat natal mama,
Selamat natal bapa,
Selamat natal untukmu yang di rumah.
Ah .. keliru kuartikan makna,
Dibiaskan ego rusak suasana,
Ada masa terus bersandar,
Ada masa harus tersadar.
HADIAH NATAL
Sebagai orang beriman Katolik, tentunya tidak asing dengan “Natal” yang dirayakan setiap tahun sebagai hari raya keagamaan. Dalam ajaran Gereja Katolik, makna dari Natal sendiri adalah mengenang kelahiran “Sang Juru Selamat,” yang dikandung dari Roh Kudus dan dilahirkan oleh Sta. Perawan Maria Bunda Allah.
Dalam perayaan natal pula, umat Katolik mengenang bagaimana Allah Yang Maha Kuasa, datang dan hidup sebagai dan bersama manusia. Mulanya Allah telah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, dan pada saat Natal Allah menyerupa seperti ciptaan-Nya, manusia yang amat dicintai-Nya. Allah meninggalkan “singgasana” yang penuh dengan kemuliaan dan tinggal bersama manusia, itu adalah bukti nyata bagaimana Allah mencintai manusia.
Siapa yang datang di waktu Natal. Dia yang datang, yang lahir di Bethlehem adalah Emanuel, yang berarti “Allah beserta kita.” Sekali lagi dikatakan bahwa Allah meninggalkan “singgasana” yang mulia untuk hidup sebagai manusia di tengah-tengah manusia. Jika Allah saja meninggalkan kemulian-Nya dan hidup sebagai manusia, lantas bagaimana kita manusia menyambut Allah itu? Apakah sekadar dengan hiasan penuh pernak-pernik pada pohon dan kandang natal? Atau pesta pora dengan alasan merayakan natal? Ataukah dengan menyiapkan hati. Memperbaiki pikiran, perkataan dan sikap kita? setidaknya meminta maaf dan memberikan maaf untuk siap batin menyambut dan merayakan Natal?
“Yesus, datanglah dan tinggallah dalam hatiku, tetapi hati ku ini masih kotor, bersihkanlah dahulu hatiku dengan kuasa-Mu, agar Engkau layak tinggal di dalamnya.”
Selanjutnya, misteri keselamatan Allah ini tidak lepas dari ketaatan Bunda Maria. “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.” Pernyataan ini merupakan simbol penyerahan diri dan ketaatan Bunda Maria kepada Allah. Dia sadar sebagai hamba Tuhan, dan siap melaksanakan segala kehendak Tuhan, yang mana dalam ketaatannya itu, ia tetap yakin dan percaya sekalipun pedang menembus ke dalam hatinya.
Di era teknologi dan digital ini, segala sesuatu yang kita inginkan dengan mudah kita dapat, tanpa perlu banyak berkorban. Masa yang memanjakan ini, nyaris meninabobokan kita dari sikap berkorban. Kita cenderung lebih menghargai hal-hal yang bersifat membahagiakan dan akan mengeluh saat kita menderita, kita sakit, kita berkekurangan. Kita mengeluh pada sesama bahkan kita sampai mempersalahkan Tuhan yang tidak adil. Apakah kita masih pantas memanggil Maria dengan sebutan Bunda?
Kemudian, ada pula nilai baik yang diteladankan para gembala di Efrata. Ketika mereka mendengar kabar kelahiran Yesus, saat itu juga mereka bergegas menuju ke Bethlehem. Tidak terlihat penolakan dalam bentuk alasan atau pertanyaan apa pun. Siapa ayah-Nya? Siapa ibu-Nya? Atau alasan bahwa masih harus menggembalakan ternak. Dalam menyambut Tuhan yang lahir sebagai manusia, di kandang yang hina, sangat diperlukan sikap taat dan tanpa alasan. Sikap siap berkorban, sikap siap tanpa alasan apa pun dalam menyambut dan mewartakan kabar gembira, kabar keselamatan dengan perkataan kita dan dengan perbuatan kita setiap hari. Jadikan diri kita, perkataan kita dan perbuatan kita sebagai hadiah natal yang paling berarti bagi sesama kita.
Selamat Natal Untukmu Semua
Kamis, 29 Juni 2023
KISAH SEKUNTUM MAWAR
KISAH SEKUNTUM MAWAR🌹
Modestus Peter Iwan Doluhalang
Pernah
layu sekuntum mawar,
Layu
di antara bunga-bunga mekar,
Rautnya
kian samar,
Dengan warna yang terus memudar.
Pernah layu sekuntum mawar,
Diterpa panas dari pucuk sampai
akar,
Bertahan dalam debu kering tanpa
air,
Hampir mati dan berakhir.
Tapi
mawar yang pernah layu,
Kini
bangkit bernyanyi merdu,
Memamanggil,
memikat kupu-kupu,
Dia tak
lagi layu.
Benar, bunga tak mekar sekali waktu,
Tapi
satu demi satu.
Minggu, 09 April 2023
Apa dan Bagaimana Paskah Bagimu?
Paskah, hari raya mengenang
kebangkitan Yesus Kristus Penebus Umat Manusia. Hari Raya Paskah adalah puncak
dari Rangkaian Tri Hari Suci. Dalam Tri Hari Suci itu, Gereja Katolik secara
khusus mengenang kembali bagaimana Yesus menderita, wafat dan bangkit demi
menebus dosa manusia, seperti yang telah Yesus katakan, "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan
mendirikannya kembali" (Yoh 2:19). Yang dimaksudkan Yesus dengan “Bait Allah”
adalah diri-Nya sendiri. Dia wafat dan berbaring dalam kubur selama tiga hari.
Dan pada hari ketiga Yesus Kristus bangkit mengalahkan maut, "Ia telah
bangkit, dan mendahului kamu ke Galilea" (Mat 28:1-10). Yesus
Kristus membawa keselamatan, yang patutnya kita jawabi dengan iman, harapan dan
kasih. Dalam Perjanjian Lama, Paskah dirayakan sebagai tanda peringatan akan “pembebasan
bangsa Israel dari perbudakan Mesir” (Kel: 12: 1-42). Bangsa
Israel yang diperbudak oleh Bangsa Mesir, dibebaskan Allah dengan kuasa-Nya,
melalui nabi Musa. Tetapi dalam Perjanjian Baru, paskah dirayakan untuk
mengenang pembebasan manusia dari kuasa dosa oleh Allah sendiri. Allah yang menjadi
manusia, hadir dan hidup dalam sejarah manusia. YESUS yang adalah Allah Putera,
menanggung sengsara dengan penuh kerelaan, hingga wafat di tempat paling hina. Tuhan
Yesus wafat seperti seorang penjahat paling hina.
Paskah sebagai puncak perayaan
Iman Katolik, harusnya dirayakan dengan hikmat, dengan penuh hati dan dengan
persiapan yang matang. Itulah mengapa ada masa prapaskah. Masa prapaskah adalah
masa tobat, masa memeriksa diri, menyesali diri akan perbuatan dosa. Masa
bertobat dan kembali kepada Allah. Kepada Allah yang meninggalkan singgasana
dan kemuliaan-Nya, menjadi manusia dan hidup dengan dan di tengah manusia.
Jika disimak dengan seksama
bacaan Injil pada malam Sabtu Suci, salah satu pesan dari perayaan Paskah
adalah “kembali ke Galilea.” Galilea adalah tempat pertama Yesus membentuk
formasi murid-murid-Nya. Artinya bahwa Yesus mengajak kembali kepada permulaan.
Kembali pada titik start. Lalu apa hubungan dengan kita? Tentu saja kita
pun diajak Yesus untuk kembali ke “Galilea.” Galilea bagi kita adalah “jalan
kebenaran yang diajarkan oleh Yesus.” Ketika kita dibaptis, kita bersih dari
dosa, namun kini kita semakin jauh dari Jalan Tuhan dan semakin tenggelam dalam
dosa. Maka dari itu, kita dipanggil kembali. Kita tidak lagi dipanggil lewat
nabi-nabi, kita justru dipanggil langsung oleh Allah, dipanggil untuk kembali pada
“Galilea,” kembali pada permulaan dimana kita bersih dari dosa waktu kita dibaptis.
Kita boleh bahagia karena
Yesus telah bangkit, tetapi apakah hati kita pun bangkit dengan meninggalkan
dendam terhadap sesama yang berlaku jahat kepada kita?
Kita boleh bahagia karena Yesus
telah bangkit, tetapi apakah saat sesama berkesusahan, hati kita pun bangkit
untuk membantunya?
Kita boleh bahagia karena
Yesus telah bangkit, tetapi apakah sikap dan perbuatan kita tidak lagi terkubur
dalam lubang dosa?
Kita boleh bahagia karena
Yesus telah bangkit, tetapi apakah mulut kita pun bangkit dengan tidak mengumbar
cacian, hinaan dan gosip?
Kita boleh bahagia karena
Yesus telah bangkit, tetapi apakah hasraf dan nabsu pun telah bangkit dengan
tidak mengorbankan tubuh untuk kenikmatan sesaat?
Kita boleh bahagia karena Yesus telah bangkit, tetapi apakah cinta akan Allah, akan istri, suami, anak, orang tua, kakak-adik, teman dan sesama pun telah bangkit?
Kita boleh bahagia karena
Yesus telah bangkit, tetapi apakah kita pantas merayakan-Nya?
Semoga......,
Saya Modestus Peter Iwan Doluhalang, mengucapkan Selamat Merayakan Hari Raya Paskah untuk kita semua. Semoga damai paskah senantiasa menyertai kita semua.
Rote, 9 April 2023.
Selasa, 04 April 2023
MELUKIS CINTA DI ATAS PASIR PULAU KECIL
Dalam Aksi Mengunjungi Umat Stasi Santu Petrus Ndao
(Kapela Santu Petrus Ndao)
Hari itu
hari Sabtu, tepatnya di tanggal 1 April 2023. Di atas laut yang tenang saya
bersama dua teman mahasiswa KKN ( Kuliah Kerja Nyata) STIPAS Keuskupan Agung
Kupang bersama Pastor Paroki St. Kristoforus Ba’a, RD. Ardy Meman dan seorang
suster berlayar menuju pulau Ndao, dalam rangka merayakan Hari Minggu Palma,
Hari Kamis Putih dan Jumat Agung bersama umat Katolik di sana. Pulau Ndao atau Rai
Dhao adalah sebuah pulau kecil di sebelah barat Pulau Rote di Provinsi Nusa
Tenggara Timur, Indonesia. Pulau Ndao adalah salah satu dari tujuh pulau di
wilayah Sunda Kecil, yang disebut “busur luar”. Di pulau ini terdapat sebuah Stasi
yang menjadi bagian dari Paroki St. Kristoforus Ba’a, Keuskupan Agung Kupang.
Saat
rombongan kami tiba, senyuman dan sambutan hangat dari umat Stasi yang hanya
berjumlah 11 (sebelas) KK memancar deras. Menggambarkan kerinduan akan
kehadiran seorang gembala iman. Bagaimana tidak, umat di pulau ini jarang merayakan
Ekaristi, lantaran jarak dan sulitnya transportasi, ditambah lagi dengan cuaca
yang bisa saja tidak menentu, sehingga imam atau pastor sulit mengunjungi stasi
ini. Namun semangat mereka dalam iman Katolik tidak pernah pudar, biarpun
mereka hidup sebagai minoritas di pulau ini, ditambah lagi dengan keterbatasan
yang mereka miliki, itu tidak menjadi penghambat dalam menumbuhkembangkan dan
memperteguh iman mereka.
“Mereka
hebat, mereka mandiri.” Ungkapkan itu mengalir begitu saja, setelah beberapa
hari tinggal bersama mereka. Meskipun
mereka kurang paham tentang teori keimanan Katolik, tetapi aksi, sikap dan
semangat iman mereka melampaui itu. Bapak Anton, Ketua Stasi Mengungkapkan
bahwa betapa merindunya mereka akan kehadiran imam, mereka haus akan itu. Dari
rasa “haus” yang mereka rasakan itu, menyulut semangat mereka, mereka telah
membangun sebuah kapela yang bagus, dengan sumbangan dari DIRJEN BIMAS KATOLIK,
dan dari kolekte dan iuran pembangunan (11 Kepala Keluarga). Beberapa umat pun menimpali,
bahwa “ketika imam tidak berkunjung, kami bergantian mengambil bagian dalam Ibadat
Sabda pada hari Minggu.” “Kami memang ingin memiliki seorang imam yang menetap
di sini, di Stasi kami ini, namun kami juga tahu bahwa kami belum punya Rumah
Pastoran, juga jumlah umat kami belum banyak. Kami yang berjumlah 11 (sebelas)
KK ini, semua adalah keluarga.”
Rd. Ardy
Meman, dalam kotbah Hari Minggu Palma. Mengatakan bahwa, “bisa saja ketua Stasi
memimpin ibadat perayaan Pekan Suci. Tetapi kehadiran imam itu sangat penting.”
Seperti Rasul Paulus dalam mengemban misinya, mewartakan Kristus kepada
orang-orang bukan Yahudi. Ia tidak tinggal dan diam, tetapi berkeliling,
menghadapi pelbagai hambatan dan tantangan. Misi bukan saja tentang
mengumpulkan banyak orang, tetapi juga melibatkan banyak orang dalam misi itu
sendiri. Itulah maksud dari RD. Ardy, ia tidak ingin diam dan tinggal di Rumah Pastoral Paroki. Ia keluar dan menghadapi hambatan dan tantangan demi sekadar
mengunjungi umat di Stasi Kecil, Stasi Santu Petrus Ndao. Romo Ardy pun
menimpali bahwa hendaknya semua umat di Stasi ini saling mendukung, terlibat
aktif dalam kegiatan Gereja, “saling melengkapi dan melayani atas dasar Kasih
Kristus.”
Dalam
kunjungan ini, RD. Ardy juga mengajak umat dari Stasi Kola dan Feapopi yang ada
di pulau Rote. Ajakan ini disambut
hangat, umat dari dua stasi ini akan datang ke Pulau Ndao pada Rabu, 05 April
2023. Mereka juga akan mengambil bagian dalam perayaan Kamis Putih dan Jumat
Agung. Kunjungan ini dimaknai Pastor Paroki St. Kristoforus Ba’a, RD. Ardy sebagai
Redemptoris Missio, sebagai mana yang termuat dalam Art. 22 “Diutus Sampai
Ke Bumi,” yang merujuk pada Amanat Agung ( Perintah Perutusan) dari Yesus sendiri
(Mat. 28: 18-20). Satu keinginan beliau adalah meneladani Yesus Kristus dalam pelayan
tanpa ada tujuan untuk “uang.” Ia juga menghimbau agar semua imam haruslah demikian,
agar umat mendapat pelajaran dan teladan bagaimana semangat melayani yang sejatinya.
“Terjun ke tengah umat, merasakan kehidupan umat, tidur di tempat tidur umat dan
makan apa yang dimakan umat.” Tidak pun hanya untuk imam, awam juga punya tugas
yang sama, ketika imam sudah memberi teladan, umat harusnya siap meneladaninya.
Karena yang memiliki imamat bukan hanya imam, tapi umat juga punya imamat umum.
Dari sini saya
secara pribadi memetik pesan, bahwa iman tidak tumbuh dalam diam dan tinggal, tetapi
dalam tindakan semangat pelayan.
PERGILAH, KAMU DI UTUS!
#Modestus Peter Iwan Doluhalang
Ndao, 4 April 2023
Lihat juga bacaan lain di BERANDA
Minggu, 12 Maret 2023
SAJAK MALAM
Sabtu, 11 Maret 2023
MAU PULANG ATAU ULANG?
"Setiap manusia tidak pernah luput dari salah dan dosa, tapi tidak semua manusia mengakui salah dan dosanya, kemudian kembali kepada Tuhan."
Ketika kita jauh dari tempat atau orang ternyaman yang tentunya kita sayang, pasti akan timbul perasaan yang disebut "rindu atau kangen." Perasaan ini sungguh lahiriah, karena datang dengan sendirinya dan sulit tuk ditepis. Tentunya semua kita pernah mengalami hal seperti ini. Begitupun ketika kita semakin jauh dari Tuhan, pasti dalam lubuk hati yang paling dalam, ada kerinduan untuk kembali dan bertemu dengan Tuhan. Kerinduan itu datang dari hati dan memaksa kita untuk kembali kepada Tuhan. Tetapi ada seribu satu cara iblis menghalangi kita, menutup mata dan telinga kita untuk mendengar dan melihat ajakan suara hati itu. Ada berbagai macam alasan yang ditawarkan iblis, seperti egois, gengisi dan lain sebagainya. Dan itulah kita entah sadar ataupun tidak.
Hari ini, dalam Injil yang menggambarkan Perumpamaan Tentang Anak Yang Hilang, kita diajak langsung oleh Yesus, kita diajak kembali pada rumah Bapa yang begitu kaya dan sejahtera. Kita diajak meninggalkan segala hal duniawi. Begitu tulus ajakan Tuhan tanpa mempertimbangkan salah dan dosa kita.
Lalu bagaimana kita menyikapinya? Apakah harta, tahta dan jabatan mematahkan ajakaan dari Tuhan ini? Ataukah dengan lapang dada kita berbenah diri dan kembali pada pintu yang terbuka lebar?
Setiap manusia tidak pernah luput dari salah dan dosa, tapi tidak semua manusia mengakui salah dan dosanya, kemudian kembali kepada Tuhan.
So, marilah jawabi ajakan Tuhan kita. Sekali redup tapi tak padam. Sekali jauh, pasti kan kembali. Sekali malu, melangkahlah lewat pintu yang t'lah dibuka Sang Ilahi.
Semoga,....
Baca juga:
Gundah Antara Angan Dan Jangan
Halaman Facebook LILIN KECIL
Jumat, 10 Maret 2023
Lupa Nama Ingat Rasa
![]() |
"Sesuatu yang tidak mungkin bisa dibawa pulang adalah bekas."
Kamis, 9 Maret 2023, dalam perjumpaan dengan umat Stasi Batu Tua, dalam perayaan Ekaristi Pemberkatan Rumah. Tertaut dialog singkat bersama seorang umat. Dialog dibuka dengan menanyakan nama, asal dan berapa lama di sini (di tempat KKN). Kemudian perbincangan mengarah pada pertanyaan: Apa yang akan kalian lakukan di sini? Pernyataan ini sederhana, namun setelah dipikir lagi, pertanyaan ini mengandung makna yang dalam. "Apa yang akan kalian buat di sini?" Setelah pertanyaan itu, kemudian dilanjutkan dengan satu pertanyaan lagi: "Apakah kalian bisa meninggalkan kenangan baik, sehingga ketika kalian kembali, kenangan itu dapat mengingatkan kami pada kalian?"
Sontak saya tertegun, saya berpikir keras apa yang harus saya lakukan? Saya berpikir bukan sekadar menjawab pertanyaannya, tetapi apakah kehadiran saya dapat dianggap ada? Dari percakapan itu kemudian saya refleksikan, umat mengharapkan sosok orang yang dapat membawa mereka, mengarahkan mereka bukan sekadar dengan kata-kata tetapi dengan aksi yang nyata. Memberikan contoh dalam tindakan.
Setelah kembali ke Patoran Paroki, dalam makan malam bersama, Pastor Paroki RD. Ardy Meman juga menyampaikan bahwa: "Datang dan pergi itu biasa, terapi yang luar biasa adalah apa yang kau buat mulai dari kau datang dan sebelum kau pergi." Dari pernyatan ini saya kemudian teringat pada motto tingkat kami Pertransiit Benefaciendo (berkeliling sambil berbuat baik). Dua pencerahan yang saya dapatkan kemudian menuntut saya untuk total, bukan hanya saat KKN, tetapi selama menjadi Katekis, yang berarti seumur hidup. Jika katekis mengajarkan tentang Kristus, berarti katekis sudah harus paham dan dekat dengan Kristus. Jika katekis mengajar tentang kebaikan, berarti katekis terlebih dahulu telah melakukan kebaikan. karena warta bukan hanya dengan kata-kata tetapi juga bahkan lebih pada tindakan. (Iman tanpa perbuatan pada hakikatnya mati dan perbuatan tanpa iman adalah tiada arti).
So, apa yang sudah saya buat sebagai ungkapan iman saya? Setidaknya ketika nama kita dilupakan, "rasanya" tidak ikut dilupakan.
Baca juga:
Gundah Antara Angan Dan Jangan
Halaman Facebook LILIN KECIL
Rabu, 08 Maret 2023
DIAM
"Ketika kata tak lagi bermakna, lebih baik diam saja." Kalimat singkat ini pernah tertulis pada pintu tertutup, wujud kecewa mendalam. Sekalipun singkat, kalimat ini menyiratkan banyak makna, salah satunya adalah makna "diam."
Tidak sedikit orang berpikir bahwa diam adalah gambaran ketidaktahuan. Jika anda adalah bagian dari orang-orang itu, berarti anda keliru. Kenapa?
Selasa, 07 Maret 2023
GUNDA ANTARA ANGAN & JANGAN
![]() |
AKU PELUKIS SENJA
Dalamnya angan semakin jauh.
Jauh niat pada asa penghapus peluh.
Tak peduli sekuat-kuatnya niat.
Tergoyah juga oleh ribuan goda tanpa syarat.
Aku pelukis senja, terdampar jauh.
Lebih jauh dari tuan pada puannya.
Bahkan hanya bisa bertanya.
Pantaskah aku disebut kepunyaan-Nya?
Seperti sadar setelah ditampar.
Aku t'lah jauh melanggar.
Bukan tak sengaja, justru dengan mata terbuka lebar.
Masih pantaskah kembali bersandar?
Aku pelukis senja.
Rindu pulang pada Dia yang empunya.
Merangkak pelan, keluar dari hati begitu gelapnya.
Harus, harus sampai pada janji selamat-Nya.
Saat riuh mulai senyap.
Sayup ku dengar kidung ratap.
Sekadar ingin tuk mengenang.
Juang-Nya yang jadi pemenang.
Aku pelukis senja, sadar dalam raga yg termenung.
Mengingat Dia, dosaku ditanggung.
Memar, merah, darah, robek, Dia terluka.
Bahkan dahaga disuapi cuka.
Siapakah aku ini Tuhan?
Mengapa demi aku Kau berkorban?
Bukankah dengan tawa Kau ku hina?
Mengapa jiwa tak Kau cabut pada raga hina-dina?
Aku pelukis senja, t'lah lupa.
Indah senja, indah dunia sementara, tak lama.
Aku pelukis senja, t'lah buta.
Buta pada maaf-Mu yang tak terhingga.
Rote, 07 Maret 2023
Selasa, 21 Februari 2023
MAMA
Sajak cinta memang sederhana,
Tapi tidak dengan larik “pelampung tinggal satu,”
pada bait “kapal Cantika.”
Isyarat cinta ibu pada anak, Yang menjadikannya tenggelam.
sajak cinta memang sederhana,
tapi tidak dengan bait “penjaga tungku dalam rumah,”
isyarat kuat beri pelukan, seolah tegar asa harapan,
nyata rapuh dia diamkan.
Sajak cinta memang sederhana,
Tapi tidak dengan rima “ dusta si pembohong besar.”
Isyarat paksa senyum, seolah jujur,
Demi kenyang anak, ia rela lapar.
Kupang, 29 Oktober 2022
Senin, 13 Februari 2023
Hari Kasih Sayang.
Hari
Kasih Sayang.
Kasih
apa? Sayang siapa?
Hari
barter coklat dan harga diri!
Berbicara
tentang Valentine day, banyak dari kita kemudian mengartikannya sebagai
hari kasih sayang yang selalu dirayakan pada tanggal 14 Februari. Hari kasih
sayang itu sebenarnya mengenang seorang Santo bernama Valentinus dari Roma, yang dihukum rajam dan berujung
dipenggal kepalanya, karena menentang dekrit Kaisar Klaudius. Karena sikap
pembelaannya terhadap moral kaum muda Roma itu, hari kematiannya yaitu pada
tanggal 14 Februari, dikenangkan sebagai hari Valentine.
Dewasa
ini, Valentine day dirayakan secara universal, hampir di seluruh pelosok
dunia. Namun, perspektif atau nilai dari valentine itu sendiri kini kian
bergeser. Tidak sedikit orang, terkhusunya kaula muda mengartikan hari kasih
sayang itu sebagai hari untuk memberikan “kasih sayang” secara penuh kepada
seseorang yang istimewa saja. Sampai pada titik ini belum nampak sesuatu yang
ganjil. Tapi jika diperhatikan lebih dalam, orang istimewa yang dimaksudkan
bukanlah orang tua, bukan sahabat, bukan teman, bukan pula kerabat bahkan bukan
Tuhan. Orang istimewa menurut mereka adalah pacar. Benar tidak jadi persoalan pacar
menjadi orang istimewa, tapi dapatkah cinta seorang pacar disetarakan dengan cinta,
pengorbanan dan perhatian orang tua? Apakah cinta seorang pacar lebih besar
dari cinta Dia yang tergantung di kayu salib demi menebus dosa manusia?
Mirisnya
lagi, hari kasih sayang diartikan sebagai “saya cinta maka saya kasih,” yang mana
pada hari itu, tidak sedikit kaum muda khususnya kaum wanita dengan suka rela bertemakan
Valentine day, menukarkan kehormatannya dengan sebatang coklat seharga
Rp 10.000. Apakah itu pantas?
Saya
kira demikian, di hari kasih sayang ini patutnya sebagai orang beriman, pertama-tama
mengucapkan syukur kepada Tuhan. Setelah itu, ungkapkan syukur dengan cinta yang
dalam untuk kedua orang tua. Sekedar membagikan pikiran, jika saja di setiap
hari, kita selalu menerima dengan sadar, mensyukuri dan berusaha membagikan
kasih sayang kepada semua orang, tidaklah begitu berarti hari kasih sayang itu.
Diantara Terbuang dan Berjuang
Perlahan ku buka mata. Berat, ya memang sangat berat tuk tinggalkan mimpi yang belum tuntas ku rajut, tapi harus ku paksakan!
Kelat!
Jujur hati enggan membuka mata ini, namun raga tak harus terus tidur. Bergerak mencari jawaban.
Terbelalak bola mata memerah, muka turut serta namun hati tidak, ia lebih memilih untuk bingung dan terus menatap tontonan lucu yang kian terpamerkan.
Lelah melihat, tanpa komentar hati bertanya, mengapa demikian?
Mengapa dan terus saja mengapa?
Mata lebih melihat namun kala peka dari nurani. Peka terhadap jiwa yang mudahnya meninggalkan jasad, jiwa muda obsesi dan stres berputus asa dan putus nyawa.
Inikah prinsip hidup yang semestinya? Lalu apa yang seharusnya membuat badan melayang bebas dari penyebrangan bernamakan "Liliba" Tersebut?
Hai muda, kau teramat kuat,
Janganlah berpekikan berat-berat,
Kepalamu masih dibutuhkan rakyat.
Lupakah kau akan hidup lalu yang kian melarat, hingga kau terpaksakan batinmu untuk terjun bersaing dengan ribuan ambisi yang sarat?
Jilatlah ludah mu itu!
Jilat saja! Tak perlu kau risau pada mata indah rembulan yang kadang tak selalu sepenuhnya datang.
Wajahnya ia sembunyikan!
Ia pun tak setia bukan?
Lawanlah nabsu hasrat mu!
Kau masih teramat kuat!
Tapak jauh masih harus kau rajut.
Ingatlah betapa pilu luka dalam sang pujaan mu? Mereka teramat luka melihat kau patah dalam tumbuh yang terlalu mudah!
SEGERALAH BANGUN DARI MIMPIMU HAI KAU YANG MUDAH!!!!
_Modestus Petter Iwan Dlhg
Minggu, 12 Februari 2023
Berderak Diantara Retak dan Hampir Pecah
Selamat pagi terucap dari mulut untuk semesta, tapi yang utama adalah sepasang mata yang tak pernah jenuh memandang keruhnya alur hidup nan butuhkan nasihat ini.
Mentari masih belum terlihat betul, tapi dia, sosok yang tak juga istimewa penampilannya tlah berlalu mengejar nafkah demi sesuap nasi.
Ingatkah kah kau, bahwa tiap-tiap nikmatnya suapan kedalam rahang mu adalah hasil pengorbanan peluh, nanah, bahkan darah dari dia yang raut wajahnya kian mengkerut keriput?
Seorang ayah mungkin saja tak pernah berkata "Aku menyayangi mu Nak!", Tetapi ketahuilah, bahwa bilamana ibu mengandung selama sembilan bulan sepuluh hari di dalam rahimnya, dari saat itu juga ayah mengandung anaknya selama hidupnya dalam kepalanya, mengandung pikiran memecah pekiknya persoalan, tanggung jawab, demi bagaimana melihat raga mu tersenyum bahagia.
Dia kian rapuh, wajahnya kian keriput, ubannya mulai nampak. Ya, dia menua!
Tapi pernahkah sekali saja mulut bertanya; "Ayah, apa cita-cita di senjanya usiamu nanti?"
Tak lain dan tak bukan, hanya akan ada satu jawaban.....
"Nak, ketahuilah, ada satu kebahagiaan terbesar yang sangat ayah harapkan. Sukses mu lah yang harus menghentikan kerja keras ku selama ini, sukses mu lah yang harus membahagiakan raga ini hingga mata kian redup dan tertutup!"
Hati pedih, relung kian sedih!
Pukulan yang teramat dalam menusuk, sangat lah sakit. Tetesan air mata membasahi pipi, tanda penyesalan.
Maaf ayah, aku gagal.
Aku terjerat keteledoran, aku melupakan semua perjuangan mu, tlah aku patahkan semangatmu.
Bantu aku ayah, berdoalah untuk jalan di depan ku.
Tak ada dan tak pernah ada tempat yang lebih baik tuk bersandar. Ayah kemana pun kami ingkar, pasti akan kembali di bawa kaki tak beralas mu ini.
Sabtu, 11 Februari 2023
Pemuda Cinta Gereja Dan Bangsa
Pemuda Cinta Gereja Dan Bangsa
Sapardi Djoko Damono, dalam puisi berjudul “Bunga-bunga di
taman,” menggambarkan bagaimana banyak bunga dengan jenis dan warna yang
berbeda dalam satu taman yang sama (Damono, 1994: 11). Secara tidak langsung, puisi ini menggambarkan
pula keadaan bangsa Indonesia yang majemuk. Indonesia dikatakan majemuk karena
memiliki banyak suku, bahasa, adat-istiadat, budaya dan agama.
Perbedaan-perbedaan inilah yang kemudian menghiasi dan mewarnai bangsa
Indonesia.
Kendati demikian, hidup dalam perbedaan tidaklah mudah, apa
lagi bila perbedaan dijadikan alasan untuk melahirkan konflik. Memang konflik
lumrah terjadi di dalam interaksi sosial, namun jika konflik itu tidak disikapi
dengan bijak, maka dapat menimbulkan ketidaknyamanan yang berujung pada
perpecahan bangsa dan negara. Lalu bagaimana cara untuk mengatasi dan mengantisipasi
terjadi konflik dalam kehidupan dengan penuh perbedaan seperti ini? Emile
Durkheim, seorang sosiolog menawarkan teori Keteraturan sosialnya, baik dalam
masyarakat perkotaan maupun masyarakat pedesaan. Hematnya, Durkheim menjelaskan
bagaimana keteraturan dalam masyarakat dapat tercipta melalui proses tertib
sosial yang bersadarkan norma yang berlaku dalam masyarakat, hukum sebagai
norma yang baku dan kaku yang pada akhirnya melahirkan sebuah pola keteraturan.
Lalu apa afiliasi dengan Orang Muda Katolik, sebagai generasi
bangsa dan Gereja? Kembali pada konteks masyarakat, yang mana tidak hanya
terdiri dari satu agama. Dengan demikian, orang muda pada umumnya dan secara
khusus orang muda Katolik harus mampu menempatkan diri sesuai dengan posisi
yang tepat dalam masyarakat, seturut dengan pandangan Durkheim. Atau dengan
kata lain, sebagai orang muda Katolik, tidak boleh memaksakan
perspektif-perspektif Katolik secara spesifik kepada semua orang secara
universal dalam masyarakat. Mengapa? Karena sekali lagi ditekankan bahwa tidak
semua masyarakat itu beragama Katolik, yang artinya tidak semua masyarakat
dapat menerima perspektif agama Katolik. Secara lebih spesifik, John Rawls
dalam A Theory of Justice, menjelaskan tentang apa itu “posisi asali”
manusia (Loe, 2015: 11). Yang mana posisi asali itu adalah sebuah sifat
refektif personal atau individu dalam menyikapi perbedaan. Hakekatnya manusia
adalah makhluk individu, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa manusia juga makhluk
sosial, yang mana manusia memiliki kerinduan dan kebutuhan untuk berinteraksi
secara manusiawi dengan manusia lain. Atau dapat dijabarkan bahwa OMK adalah
anggota Gereja, tetapi juga memiliki kerinduan untuk berinteraksi dengan orang
muda dari agama lain
Lalu bagaimana orang muda Katolik harus bersikap dalam
interaksinya dengan sesama beragama lain, berhubungan dengan orang muda yang
100% Katolik dan 100% Indonesia? Menjawabi hal ini, sebenarnya kita perlu kembali
pada hukum tertinggi dalam Gereja Katolik tentang “cinta kasih”. “Barang siapa
tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih”(Bdk.
1 Yohanes 4: 8). Ajaran tentang mengasihi dalam Gereja Katolik, tidak hanya
mengarah pada kasih terhadap sesama umat beriman Katolik semata, tetapi juga
kepada semua orang, termasuk sesama beragama lain, sebagaimana yang tertulis
dalam Injil Matius 5: 45, bahwa Allah menerbitkan matahari dan menurunkan hujan
tidak hanya untuk orang baik, tetapi untuk semua orang. Maka dari itu, sikap
saling menerima, menghargai dan menghormati cukup untuk membawa keharmonisan
dalam interaksi orang muda Katolik dengan orang muda beragama lain. Atau dengan
bahasa teoritis dalam buku Collected Paper (1999), Jhon Rawls menawarkan
konsep nalar privat dan nalar publik. Artinya, dalam komunikasi pribadi, intern
atau prifatnya orang muda Katolik boleh mengedepankan konsep agama Katolik secara spesifik, tetapi
dalam interaksi dan komunikasi bersifat publik, hal tersebut harus dihindari.
Kemudian, dalam menjawabi pertanyaan manakan yang lebih
penitng, negara atau agama? Tentu saja dua-duanya sama penting, orang muda
Katolik adalah umat Allah, tetapi di samping itu mereka juga adalah masyarakat
yang berkewajiban menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Merujuk pada ajaran
Yesus, “berikan kepada kaisar, apa yang menjadi hak kaisar dan berikan kepada
Allah, apa yang menjadi hak Allah.” Bagaimana aplikasinya? Sebagai umat
Gereja, orang muda Katolik wajib
menjalankan 10 perintah Allah dan 5 perintah Gereja, Aktif dalam kegiatan
pastoral (katekese, kor, dsb). Dan sebagai masyarakat, orang muda Katolik wajib
mematuhi aturan-aturan pemerintah dan menjaga kedaulatan bangsa Indonesia.
Ringkasnya, sebagai orang muda Katolik harus menjadi manusia
yang ironis liberal, yang mana ia kuat dan tekun dalam imannya, tetapi dalam
berinteraksi mampu menghargai, menghormati dan pada puncaknya merayakan
perbedaan yang ada. Karena pada hakekatnya, seturut dengan pernyataan Richard
Rorty bahwa segala sesuatu yang dipikirkan, dikatakan dan dilakukan oleh setiap
orang, menggambarkan kualitas dirinya, kualitas imannya dan kualitas agamanya.
Maka dari itu, gambarkanlah kualitas iman dan agama Katolik dalam tutur kata
dan sikap kita sebagai orang muda Katolik yang cinta Gereja dan bangsa.
MPI_Dlh-G
REFERENSI
Damono, S. D. (1994). Manuskrip Puisi Hujan Bulan Juni.
PT. Grasindo.
Lembaga Alkitab Indonesia. (2011). Alkitab Deuterokanonika
(19th ed.). LAI dan LBI.
Loe, Y. B. I. (2015). Kebebasan Setara Sebagai Pilar
Penyokong Keadilan Dalam Masyarakat Demokrasi Menurut John Rawls. Sekolah
Tinggi Filsafat Katolik Ledalero.
Selasa, 07 Februari 2023
CERCA HARAP DALAM GELAP
Refleksi
Pribadi
Tertegun
dalam bayang, benar benar berpikir keras. Masalahnya bukan soal luka bergaris
pada fisik, lebih dari itu ini luka batin! Sakinya teredam raut palsu dengan
senyum. Ya, senyum manis terlantunkan, tapi tak ada yang tahu suasana hati dengan
bau busuk, sakit dengan luka kian membangkai. “Kapan kn lepas semua ini?”
terumpat sebaris tanya dalam sedalam relung jiwa.
Aku
masih muda, jalan perhelatanku masih teramat panjang. Lalu mengapa semudah itu
kuputuskan harap sekian banyak kepala? Aku lalai dalam amanah, aku tersandung
batu kepercayaan yang kian membengkakkan mata mereka, mereka kini pilu, dengan
air muka yang kian kusut.
Marah
pada ku?
Benci
pada ku?
Tak
menyukaiku?
Silahkan!
INILAH
AKU DENGAN KEAKUANKU!
Salahkah
insan tak sempurna ini Tuhan?
Hufffffffffffff,....
Percaya
saja, cahaya tak benar-benar hilang, sekalipun hanya tersisa kunang-kunang di
antara sukma penuh bimbang. Dari kekalutan yang begitu pekatnya, berusaha ku
bangkit tuk rajut kembali benang yang tlah kusut. Benar memang itu sangatlah
susah, tapi tidak lebih baik mati kembali sebagai “BANGKAI!”
Senin, 06 Februari 2023
PENDIDIKAN MEMBENTUK ATAU MERUBAH?
Modestus
Peter Iwan Doluhalang
Berbicara tentang pendidikan mengingatkan kita pada pendapat
Plato, bahwa “Kesempurnaan bukanlah bakat, tetapi keterampilan
yang membutuhkan latihan.” Saya katakan demikian
karena memang dalam pendidikan kita dapat melatih keterampilan kita, baik bagi
seorang guru atau pendidik maupun sebagai seorang peserta didik. Dari
ketidaktahuan kita belajar menjadi tahu, dari tidak terampil kita berlatih
menjadi terampil. Menanggapi hal ini, bangsa Indonesia sudah sejak lama
memperjuangkan kecerdasan kehidupan rakyatnya, dengan tujuan tidak lain untuk
memajukan peradaban bangsa Indonesia, karena memang maju dan mundur peradaban
suatu bangsa bergantung pada maju dan mundurnya kualitas rakyatnya. Inisiatif
bangsa Indonesia ini nampak jelas dalam pembangunan sekolah sebagai tempat
pendidikan formal dari tingkat sekolah dasar sampai pada perguruan tinggi.
Yang menjadi pertanyaan, bagaimana
kabar pendidikan setelah 77 tahun merdekanya bangsa ini? Katanya semua diatur
dakam sistem pendidikan, dan dalam sistem itu semua peserta didik
distandarisasikan. Jika demikian sekian banyak siswa di negara besar seperti negara Indonesia ini pasti dianggap
“bodoh,” karena apa? Karena setiap anak cerdas di masing-masing aspek dan
memiliki banyak perbedaan, baik dari jenis potensi, latar belakang dan
sebagainya dan tidak bisa disamaratakan. Meminjam pernyatan Albert Einstein
bahwa “semua anak itu jenius, tetapi jika seekor ikan dinilai dari bagaimana
cara dia memanjat pohon, anak itu akan merasa bodoh seumur hidupnuya.” Kemudian
disampaikan juga oleh Bapak Pendidikan Bangsa Indonesia, Ki Hajar Dewantara
bahwa “padi tidak bisa menjadi jagung dan jagung tidak bisa menjadi padi”
demikian sistem pendidikan dengan ciri khas standarisasi harusnya ditiadakan,
karena dengan adanya standarisasi pendidikan bukannya membentuk potensi anak,
tetapi justru menghancurkan dan merubah potensi itu sesuai standar yang
berlaku, padahal belum tentu standar itu sama dengan karakter anak itu sendiri.
Dengan demikian sangat diharapkan semua pihak dalam menindaklanjuti hal ini,
baik pihak pemerintah, pihak sekolah, orang tua dan masyarakat.
Yang memegang peran penting dalam
pendidikan formal memanglah guru, tetapi pendidikan pertama dan terutama berada
dalam keluarga dan dalam masyrakat.
Seperti kata Ki Hajar Dewantara bahwa “setiap orang bisa menjadi guru, dan
setiap rumah bisa menjadi sekolah.” Artinya bahwa pendidikan tidak hanya
terjadi di sekolah saja, tetapi pendidikan juga terjadi di semua tempat. “setiap
orang bisa menjadi guru” mengartikan bahwa pendidikan dalam hal belajar bisa
didapatkan dari siapa saja, baik itu orang tua, keluarga dan teman. Pendidikan
yang dimasudkan Bapak Pendidikan Nasional ini adalah pendidikan atau
pembelajaran secara terbuka, dari siapa saja dan di mana saja. Dan dengan bebas
mengekspresikan potensi diri sesuai dengan karakteristik. Dalam hal ini,
dibutuhkan peran serta secara aktif dari masyarakat. Dikatakan demikian karena
jika pembelajaran terjadi di mana saja, termasuk dalam lingkungan masyarakat,
maka masyarakat pun harus memberikan contoh yang mendidik atau contoh yang
baik.
Selanjutnya, beralih pada kebebasan
belajar sesuai potensi diri. John Rawls dalam tesisnya tentang kebebasan setara
menyatakan bahwa kebebasan pada satu pihak tidak akan menimbulkan konflik, jika
tidak merugikan kebebasan pihak lain. Dua pihak yang hendak diandaikan di sini
adalah pihak sekolah dan pihak peserta didik. Jika kebebasan siswa dalam
belajar guna mengembangkan potensi diri yang berbeda-beda tidak diintimidasi
oleh sistim standarisasi tidak mungkin ada siswa yang dicap “bodoh”. Karena
apa, pada dasarnya setiap orang akan dengan bahagia dalam melakukan sesuatu
yang sesuai dengan keinginannya, tinggal saja pihak kedua yaitu pihak sekolah
membimbing, mengarahkan dan membentuk potensi, tanpa merubah potensi itu.
Dengan demikian tidak mungkin tidak tercipta pendidikan yang efektif.
KAJIAN KEADILAN MENURUT JOHN RAWLS DAN IMPLEMENTASINYA DALAM AKSI DEMONSTRASI PENOLAKAN PENDIRIAN GEREJA DI DESA BRINGKANG KECAMATAN MENGANTI KABUPATEN GRESIK PROVINSI JAWA TIMUR
Pada 27
April 2017, seorang sastrawan bernama Sitti Khadeeja menuliskan sebuah puisi dengan
judul “Keadilan Yang Hilang.” Dengan potongan lirik sebagai berikut: “.....Kepada
siapa keadilan berpihak? Hanya tuan puanlah yang memilikinya.” Dalam puisi
ini, baik judul maupun isi menggambarkan bagaimana refleksi mendalam dari
penulis tentang ketimpangan keadilan di negara Indonesia.[1]
Hematnya penulis menggambarkan keadaan keadilan dan hukum yang bersifat tajam
ke bawah dan tumpul ke atas atau dengan kata lain memihak pada kaum kapitalis
seturut teori konsep demokrasi Liberal-Kapitalis. Tidak hanya itu, diskriminasi
keadilan juga terjadi antara kelompok mayoritas dan kelompok minoritas dari
aspek agama, sebagaimana yang dituliskan oleh Abdi
(2020,
Oktober 11):
1.
Pada
tanggal 13 September 2020, sekelompok warga Graha Prima Jonggol di Bogor
menolak ibadat jemaat Gereja Pentakosta.
2.
Pada
tanggal 13 September 2020, sekelompok warga di daerah Bekasi mengganggu ibadah
jemaat HKBP KSB.
3.
Pada
tanggal 21 September 2020, umat Kristen dilarang beribadah oleh sekelompok
orang di desa Ngastemi kabupaten Mojokerto.[2]
Dari persoalan intoleransi agama ini, banyak orang menilai bahwa hukum bersikap tajam kepada kaum minoritas dan tumpul terhadap kaum mayoritas. Persoalan semacam ini kemudian terjadi lagi pada tanggal 4 April 2022, Warga Bringkang tolak pendirian Gereja.[3] Pada tulisan ini penulis hendak menganalisa duduk persoalan penyebab sikap intoleransi di desa Bringkang sesuai dengan hukum negara Indonesia dan teori kebebasan setara dalam tesis John Rawls, refleksi dari hasil diskusi bersama beberapa teman-teman mahasiswa Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Agung Kupang.
Dari
uraian latar belakang di atas, penulis kemudian merumuskan rumusan masalah
sebagai berikut:
1. Bagaimana
gambaran persoalan warga Bringkang tolak pendirian Gereja di Desa Bringkang
Kecamatan Menganti Kabupaten Gresik Provinsi Jawa Timur?
2. Bagaimana
landasan hukum Indonesia dan Teori keadilan John Rawls?
3. Bagaimana hubungan persoalan warga Bringkang tolak pendirian Gereja di Desa Bringkang Kecamatan Menganti Kabupaten Gresik Provinsi Jawa Timur dengan Teori keadilan John Rawls?
Gambaran Persoalan
Warga Bringkang Tolak Pendirian Gereja
Berdasarkan
berita yang dituliskan oleh jurnalis Willy Abraham pada media
Surabayatribunnews.com dengan judul berita Warga: Bringkang Tolak Pendirian
Gereja, Camat Menganti Gresik Sebut Sudah Ada Audiensi, pada tanggal 4 April
2022 dapat diuraikan pokok persoalan sebagai berikut. Warga setempat melakukan
aksi demonstrasi dengan membawa spanduk dan banner sambil berorasi di depan
sebuha gudang yang untuk sementara digunakan sebagai tempat ibadah umat Kristen
dan rencananya akan renovasi menjadi Gereja. Hal ini dipicu bukan karena warga
setempat tidak mengijinkan penggunaan dan pembangunan gudang tersebut sebagai
tempat ibadah, tetapi justru karena pihak Gereja yang bersangkutan tidak
mengindahkan atau melanggar poin dari kesapakan yang telah dibuat bersama
antara pihak Gereja dan warga setempat. Warga telah setuju dengan penggunaan
dan pembanguna Gereja di tempat tersebut, tetapi karena kesalahan pihak Geraja,
maka waarga setempat melakukan aksi demonstrasi sebagai bentuk penolakan.
Jika diamati dengan seksama, ditemukan bahwa proses pembanguan dan penggunaan gedung sebagai tempat ibadah sudah di “ia-kan” warga sesuai prosedur hukum seturut Pasal 18 Peraturan Bersama Menteri (PMB) Agama dan Menteri Dalam Negeri no. 8 dan 9 Tahun 2006. Namun karena pihak Gereja melakukan aktifitas ibadah diluar kesepakatan dan prosedur sesuai aturan yang berlaku, maka warga setempat merasa tidak terima dan melakukan penolakan.
Pengertian Keadilan
Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia (Tim
Redaksi Pusat Bahasa, 2008: 1098), kata keadilan berasal dari
kata dasar adil yang berarti: “Tidak memihak; berpihak pada yang benar; dan
tidak sewenang-wenang.” Maka dapat
diartikan keadilan sebagai sikap tidak sewenang-wenang, tidak memihak, dan
tidak subjektif.
Sementara itu John Rawls sebagai mana yang dikutip dari skripsi Loe (2015: 46) berpendapat bahwa: “keadilan adalah kebajikan utama dari hadirnya institusi-institusi sosial. Yang mana kebaikan bagi sekelompok masyarakat tidak boleh mengesampingkan hak kelompok atau pihak lain. Dari pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa keadilan adalah sikap manghargai hak pribadi dengan tidak mengurangi hak pihak lain.
Landasan Hukum Tentang
Keadilan di Indonesia
Panca Sila adalah dasar filosofi keadailan bangsa Indonesia yang kemudian di jabarkan dalam UUD 1945, UU dan aturan hukum lainnya. Sila ke-lima Pancasila Dasar Negara Indonesia berbunyi: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Keadilan yang dimaksudkan di sini adalah keadilan di berbagai aspek masyarakat tanpa diskriminasi apapun dan dari pihak manapun, sesuai yang tertuang dalam UUD 1945 tentang kebebasan dari Pasal 28 sampai pada pasal 29 (Tim redaksi Pustaka Baru, 2014), kemudian UU no. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.
Konsep Rawls Tentang
Keadilan
Kritik
Rawls terhadap ultilitarisme dan untisionisme memperlihatkan bahwa kebebasan
dan kesetaraan menjadi basis bagi teori keadilannya. Ia menegaskan bahwa dua
prinsip ini hendaknya tidak dikorbankan demi manfaat sosial atau ekonomi,
berapapun manfaat yang diperoleh dari sikap itu (Ujan,
2001: 59). Sebab, penerapan kedua prinsip
ini tidak hanya mampu menciptakan kebaikan dan keadilan dalam hidup bersama
tetapi juga mampu menjaga stabilitas dari generasi ke generasi.
Menurut Rawls “suatu teori, betapapun elegan dan ekonomisnya, harus ditolak atau direvisi jika ia tidak benar; demikian juga hukum dan dan institusi, tidak peduli betapapun efisien dan rapinya, harus direformasi atau dihapuskan jika tidak adil” (Rawls, 2006: 3;4). Itu berarti, sebuah teori keadilan yang dikembangkan harus didasarkan pada prinsip-prinsip keadilan. Kebebasan dan kesetaraan merupakan prinsip penting dari teori keadilan Rawls kerena dianggap sebagai basis terciptanya keadilan. Berikut akan dijelaskan prinsip-prinsip yang membangun teori keadilan Rawls.
Dua
prinsip keadilan Rawls yang akan disebutkan ini berangkat dari gagasan posisi
asali di mana manusia dinobatkan sebagai person moral yang memiliki daya untuk
memahami kebaikan dan mencitrakan keadilan. Daya ini menggerakan setiap orang
untuk mengakui dan menyadari bahwa kebebasan dan kesetaraan sebagaimana termuat
dalam prinsip keadilan Rawls sebagai hal yang sepatutnya harus diperhatikan,
diusahakan dan dilindungi.
Dua
prinsip keadilan tersebut berbunyi: Pertama, setiap orang mempunyai hak yang
sama atas kebebasan dasar yang paling luas, seluas kebebasan yang sama bagi
semua orang. Kedua, ketimpangan sosial dan ekonomi mesti diatur sedemikian rupa
sehingga (a) dapat diharapkan memberi keuntungan semua orang dan (b) semua
posisi dan jabatan terbuka bagi semua orang (Rawls,
2006: 72). Dua prinsip ini merupakan
penegasan bahwa untuk menciptakan tatanan kehidupan yang baik dan adil orang
tidak hanya membutuhkan kebebasan tetapi sekaligus membutuhkan pembagian barang
material yang adil. Tanpa barang material kebebasan asasi tak akan bermanfaat
sama sekali (Otto
G. Madung, 2011: 67). Prinsip-prinsip ini hendak
menjelaskan dua hal: Pertama, kebebasan merupakan hal yang penting karena itu
ia harus disejajarkan dengan nilai-nilai yang lain. Kedua, keadilan tidak
selalu berarti semua orang harus mendapat sesuatu secara merata. Menurut Rawls,
ketidaksamaan itu boleh saja ada dan dapat dibenarkan apabila mendatangkan
manfaat bagi semua secara khusus bagi mereka yang paling sering tidak
diuntungkan (Ujan,
2001: 72-73).
Lebih
jauh, untuk menjamin efektifitas prinsip-prinsip tersebut, Rawls menegaskan
bahwa keduanya harus diatur dalam tatanan yang disebutnya sebagai serial
order. Tatanan ini mengatur hak-hak dan kebebasan-kebebasan dasar tidak
boleh ditukar dengan keuntungan-keuntungan ekonomis dan sosial. Dengan
demikian, Rawls hendak memberi penekanan pada prinsip pertama yang mengatur
kebebasan yang setara dibanding kebebasan yang kedua. Penerapan dan pelaksanaan
prinsip keadilan yang kedua tidak boleh bertentangan dengan prinsip keadilan
yang pertama (Ujan,
2001: 73). Penekanan pada prinsip yang
pertama tidak boleh dilihat sebagai usaha mengabaikan prinsip yang kedua tetapi
harus dipandang sebagai cara untuk menjaga agar kedua prinsip tidak saling
bertentangan dan bertabrakan.
Prinsip
pertama menegaskan bahwa kebebasan menjadi hal yang harus diprioritaskan.
Pembatasan terhadap kebebasan hanya diperbolehkan sejauh hal itu dilakukan demi
melindungi dan mengamankan pelaksanaan kebebasan itu sendiri. Hal ini juga
bermaksud agar kebebasan diatur di dalam konstitusi sehingga praktek kebebasan
harus memperlihatkan keselamatan dan hidup yang baik dari orang lain. Artinya,
pelaksanaan kebebasan satu orang tidak boleh membahayakan kebebasan orang lain.
Prinsip keadilan yang kedua menuntut ketidaksamaan dalam mencapai nilai-nilai
sosial dan ekonomi. Namun ketidaksamaan itu hanya dibenarkan apabila tetap
membuka peluang bagi keuntungan semua orang secara khusus bagi yang paling
tidak diuntungkan. Oleh karena itu, ketidaksamaan itu tidak boleh dilihat
sebagai ketidakadilan.
Hubungan Persoalan Warga Bringkang Tolak Pendirian Gereja Dengan Teori Keadilan John Rawls
Berdasarkan uraian persoalan dan teori kebebasan serta dasar keadilan di Indonesia, penulis kemudian menyimpulkan sebagai berikut: Pertama dengan menjunjung tinggi Bineka Tunggal Ika, semboyan pada dasar filosofi keadilan di Indonesia, maka sepatutnya ditiadakan istilah mayoritas dan minoritas. Kemudian dengan mengingat isi UUD 1945 BAB XI Pasal 29 bahwa negara menjamin kemerdekaan bagi setiap warga dalam memilih, menganut dan menjalankan ajaran agama sesuai ajaran agamanya masing-masing tanpa tekanan dan paksaan dari puhak manapun, maka seharusnya setiap warga negara bebas untuk meribadah kapan dan di mana pun. Tetapi kembali mengingat aturan hukum yang tertuang dalam Pasal 18 Peraturan Bersama Menteri (PMB) Agama dan Menteri Dalam Negeri no. 8 dan 9 Tahun 2006, maka seharusnya musyawarah mufakat harus dilebihdahulukan dan harus dengan bijaksana dilaksanakan. Berkaitan dengan persoalan ini, sebenarnya konflik tidak mungkin terjadi, jika saja pihak Gereja tidak melanggar isi kesepakatan bersama. Jika dilihat dari teori keadilan John Rawls, maka dapat disimpulkan bahwa pihak Gereja memaksakan kebebasannya dengan tidak memperhatikan kebebebasan pihak lain. Hal inilah yang kemudian memicu terjadinya demonstrasi. Dari perfektif penulis, penulis membenarkan sikap warga setempat, mengapa? Karena tindakan pihak Gereja yang tidak sesuai dengan kesepakatan dan aturan berlaku, karena jika hasil musyawarah mufakat (demokrasi Pancasila) tidak diindahkan makan sidat hukum yang mengikat dan memaksa harus digerakan.
Simpulan
Negara
Indonesia merupakan negara hukum. Demikian segala sesuatu dalam kehidupan
kemasyarakatan diatur oleh hukum, sama halnya dengan proses penggunaan dan
renovasi bangunan sebagai tempat ibadah di Desa Bringkang Kecamatan Menganti
Kabupaten Gresik Provinsi Jawa Timur. Persoalan yang terjadi sepatutnya tidak
terjadi jika masing-masing pihak memegang teguh keadilan dan hukum yang
berlaku, atau dengan bahasa teori keadilan John Rawls tidak akan terjadi
konflik jika pihak Gereja dan warga setempat saling menjaga kebebasan
masing-masing atau tidak saling merugikan kebebasan pihak lain.
Referensi
Abdi, A. P. (2020) Kasus Intoleransi Terus Bersemi Saat
Pandemi, Tirto.id. Available at:
https://tirto.id/kasus-intoleransi-terus-bersemi-saat-pandemi-f5Jb. Diakses
tanggal 30 November 2022.
Abraham, W. (2022) Warga Bringkang Tolak Pendirian Gereja, Camat Gresik
Sebut Sudah Ada Audiensi, Surya.co.id. Available at:
https://surabaya.tribunnews.com/amp/2022/04/10/warga-bringkang-tolak-pendirian-gereja-camat-menganti-gresik-sebut-sudah-ada-audiensi.
Diakses tanggal 30 November 2022.
Khadeeja, S. (2017) Keadilan Yang Hilang, SCRIBD. Available
at: https://www.scribd.com/document/346523927/Puisi-Keadilan-Yang-Hilang. Diakses
tanggal 30 November 2022.
Loe, Y. B. I. (2015) Kebebasan Setara Sebagai Pilar Penyokong Keadilan
Dalam Masyarakat Demokrasi Menurut John Ralws. Sekolah Tinggi Filsafat
Katolik Ledalero.
Otto G. Madung (2011) Politik Diverensiasi Versus Politik Martabat
Manusia?,. Maumere: Ledalero.
Rawls, J. (2006) A Theory of Justice. Diterj. U. Fauzan dan H. Prasetyo.
Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Tim Redaksi Pusat Bahasa (2008) Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
4th edn. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Tim redaksi Pustaka Baru (2014) UUD NKRI 1945. Yogyakarta: Pustaka
Baru Press.
Ujan, A. A. (2001) Keadilan dan Demokrasi. Telaah Filasafat Politik John Rawls. Yogyakarta: Kanisius.
Malam dan Rindu
Malam datang berselimut kelam, angin berbisik tenggelam dalam diam. Bintang bertabur di langit sendu, menemani hati yang penuh rindu. Bulan ...


















