Bertempat di sebuah ibu kota kecamatan, tepat pukul 10 pagi
terdengar tangisan bayi, pecahkan hening dalam katup tangan penuh doa harapan
ayah dan ibunya. “Selamat bapak, anak mu laki-laki.” Kalimat pertama setelah keheningan,
memudarkan diam yang terpaut cukup lama. Ungkapan itu tak terbalas kata, hanya
senyum simpul pada air muka yang masih cukup muda tanda bahwa dia sedang
bahagia. Sipakah anak itu? Anak itu adalah dia yang menuliskan kata demi kata
yang kini tengah kau eja dalam benak. Aku adalah anak pertama dari lima
bersaudara yang tumbuh dalam keluarga sederhana harta namun kaya cinta, menurut
kartu keluarga, nama ayahku adalah Emilianus Leu dan Ibuku Monika Kewa Ujan.
Saya terus tumbuh dan berkembang dalam kasih dan sayang orang
tua, dan itu sangat nyata. Masih teringat jelas satu kisah yang jika saya
kenang kembali pelupuk mata basah tanda hati teriris perih. Saat itu saya duduk
dibangku kelas 2 (dua) SD, pada suatu malam kami dipanggil untuk makan bersama,
kami sebagai anak duduk di meja makan bersiap doa dan makan bersama bapa dan
mama. Tapi ada yang berbeda malam itu, “ade mereka makan saja, mama dengan bapa
sudah makan.” Kalimat yang keluar dari wanita pertama yang memberikan pelukan
ternyaman dalam hidup. Mendengar perintah itu kami anak-anak pun makan tanpa
meninggalkan sisa makanan sedikit pun. Setelah selesai makan. Kami beranjak
tidur, tetapi saya tidak langsung itdur, saya masih duduk dan memperhatikan
adik-adik saya yang mulai pulas tertidur. Saat itu saya teringat akan pesan
dari ayah saya, bahwa mereka suatu saat nanti akan menjadi tanggug jawab saya.
Setelah beberapa saat saya keluar dari kamar, saya bermaksud menghampiri orang
tua saya untuk bercerita, namun langkah kaki saya sontak terhenti ketika hendak
masuk ke ruang tengah tempat kami makan bersama tadi. “Biar kita dua lapar,
yang penting anak-anak mereka tidak boleh lapar.” Sontak kalimat yang diucapkan
oleh pria kekar yang selalu berusaha membahagiakan kami anak-anaknya membuat
saya tertegun, ditambah lagi dengan sahutan dari wanita disampingnya, “ia pa,
minum air saja sudah cukup, yang penting tetap sama-sama.” Saya kemudian sadar
bahwa mereka berbohong. Sungguh ayah dan ibu saya pembohong besar.
Setelah kejadian itu, saya kemudian berjanji dalam diri saya,
suatu saat nanti ketika saya sukses, saya akan membelikan makanan terenak untuk
makan bersama dengan keluarga saya. Kisah ini menjadi motivasi bagi saya dalam
segala usaha termasuk dalam sekolah saya. Saya pernah gagal dalam amanah yang sendiri
saya buat, saya terantuk batu keteledoran, saya gagal. Dalam keterpurukan itu
saya berusaha bangkit dengan segala kekurangan, saya yakin bahwa cahaya belum
redup betul, matahari belum terbenam, masih hampir. Sekalipun tersisa redupnya
cahaya kunang-kunang, bukankah lebih baik bangkit berusaha dari pada mati
kembali sebagai bangkai kan?


Tidak ada komentar:
Posting Komentar