Mengenai Saya

Foto saya
Kupang, Nusa Tenggara Timur, Indonesia

Minggu, 05 Februari 2023

TERBIT DI UJUNG SENJA

 


 

Bertempat di sebuah ibu kota kecamatan, tepat pukul 10 pagi terdengar tangisan bayi, pecahkan hening dalam katup tangan penuh doa harapan ayah dan ibunya. “Selamat bapak, anak mu laki-laki.” Kalimat pertama setelah keheningan, memudarkan diam yang terpaut cukup lama. Ungkapan itu tak terbalas kata, hanya senyum simpul pada air muka yang masih cukup muda tanda bahwa dia sedang bahagia. Sipakah anak itu? Anak itu adalah dia yang menuliskan kata demi kata yang kini tengah kau eja dalam benak. Aku adalah anak pertama dari lima bersaudara yang tumbuh dalam keluarga sederhana harta namun kaya cinta, menurut kartu keluarga, nama ayahku adalah Emilianus Leu dan Ibuku Monika Kewa Ujan.

Saya terus tumbuh dan berkembang dalam kasih dan sayang orang tua, dan itu sangat nyata. Masih teringat jelas satu kisah yang jika saya kenang kembali pelupuk mata basah tanda hati teriris perih. Saat itu saya duduk dibangku kelas 2 (dua) SD, pada suatu malam kami dipanggil untuk makan bersama, kami sebagai anak duduk di meja makan bersiap doa dan makan bersama bapa dan mama. Tapi ada yang berbeda malam itu, “ade mereka makan saja, mama dengan bapa sudah makan.” Kalimat yang keluar dari wanita pertama yang memberikan pelukan ternyaman dalam hidup. Mendengar perintah itu kami anak-anak pun makan tanpa meninggalkan sisa makanan sedikit pun. Setelah selesai makan. Kami beranjak tidur, tetapi saya tidak langsung itdur, saya masih duduk dan memperhatikan adik-adik saya yang mulai pulas tertidur. Saat itu saya teringat akan pesan dari ayah saya, bahwa mereka suatu saat nanti akan menjadi tanggug jawab saya. Setelah beberapa saat saya keluar dari kamar, saya bermaksud menghampiri orang tua saya untuk bercerita, namun langkah kaki saya sontak terhenti ketika hendak masuk ke ruang tengah tempat kami makan bersama tadi. “Biar kita dua lapar, yang penting anak-anak mereka tidak boleh lapar.” Sontak kalimat yang diucapkan oleh pria kekar yang selalu berusaha membahagiakan kami anak-anaknya membuat saya tertegun, ditambah lagi dengan sahutan dari wanita disampingnya, “ia pa, minum air saja sudah cukup, yang penting tetap sama-sama.” Saya kemudian sadar bahwa mereka berbohong. Sungguh ayah dan ibu saya pembohong besar.

Setelah kejadian itu, saya kemudian berjanji dalam diri saya, suatu saat nanti ketika saya sukses, saya akan membelikan makanan terenak untuk makan bersama dengan keluarga saya. Kisah ini menjadi motivasi bagi saya dalam segala usaha termasuk dalam sekolah saya. Saya pernah gagal dalam amanah yang sendiri saya buat, saya terantuk batu keteledoran, saya gagal. Dalam keterpurukan itu saya berusaha bangkit dengan segala kekurangan, saya yakin bahwa cahaya belum redup betul, matahari belum terbenam, masih hampir. Sekalipun tersisa redupnya cahaya kunang-kunang, bukankah lebih baik bangkit berusaha dari pada mati kembali sebagai bangkai kan?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Malam dan Rindu

Malam datang berselimut kelam, angin berbisik tenggelam dalam diam. Bintang bertabur di langit sendu, menemani hati yang penuh rindu. Bulan ...